Minggu, 30 Agustus 2015

KISAH NABI ADAM A.S. (Jilid 2 sampai selesai) + Hikmah


Pengetahuan Adam Tentang Nama-Nama Benda.

Allah hendak menghilangkan anggapan rendah para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran pilihan-Nya menunjuk Adam sebagai penguasa bumi, maka diajarkanlah kepada Adam nama-nama benda yang berada di alam semesta, kemudian diperagakanlah benda-benda itu di depan para malaikat seraya:
"Coba sebutkan kepada-Ku nama benda-benda itu, jika kamu benar merasa lebih mengetahui dan lebih mengerti dari Adam."
Para malaikat tidak berdaya memenuhi tentangan Allah untuk  menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka. Mereka mengakui ketidak-sanggupan mereka dengan berkata: "Maha Agung Engkau! Sesungguhnya kami tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu kecuali apa yang Tuhan ajakan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana."

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama itu kepada para malaikat dan setelah diberitahukan oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka:
"Bukankah Aku telah katakan padamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan."

Adam Menghuni Surga.

Adam diberi tempat oleh Allah di surga dan baginya diciptakanlah Hawa untuk mendampinginya dan menjadi teman hidupnya, menghilangkan rasa kesepiannya dan melengkapi keperluan fitrahnya untuk mengembangkan keturunan. Menurut cerita para ulama Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam yang kiri di waktu ia masih tidur sehingga ketika ia terjaga, ia melihat Hawa sudah berada di sampingnya. Ia ditanya oleh malaikat: "Wahai Adam! Apa dan siapakah makhluk yang berada di sampingmu itu?"

Berkatalah Adam: "Seorang perempuan." Sesuai dengan fitrah yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya."Siapa namanya?"tanya malaikat lagi. "Hawa",jawab Adam. "Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk ini?",tanya malaikat lagi.
Adam menjawab: "Untuk mendampingiku, memberi kebahagian bagiku dan mengisi keperluan hidupku sesuai dengan kehendak Allah."

Allah berpesan kepada Adam: "Tinggallah engkau bersama isterimu di surga, rasakanlah kenikmatan yang berlimpah-limpah di dalamnya, rasailah dan makanlah buah-buahan yang lazat yang terdapat di dalamnya sepuas hatimu dan sekehendak nasfumu. Kamu tidak akan mengalami atau merasa lapar, dahaga ataupun letih selama kamu berada di dalamnya. Akan tetapi Aku ingatkan janganlah makan buah dari pohon ini yang akan menyebabkan kamu celaka dan termasuk orang-orang yang zhalim. Ketahuilah bahwa Iblis itu adalah musuhmu dan musuh isterimu, ia akan berusaha membujuk kamu dan menyeret kamu keluar dari surga sehingga hilanglah kebahagiaan yang kamu sedang nikmat ini."

Iblis Mulai Beraksi.

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan ketika diusir oleh Allah dari Surga akibat pembangkangannya dan terdorong pula oleh rasa iri hati dan dengki terhadap Adam yang menjadi sebab sampai ia terkutuk dan terlaknat selama-lamanya tersingkir dari singgasana kebesarannya. Iblis mulai menunjukkan rancangan penyesatannya kepada Adam dan Hawa yang sedang hidup berdua di surga yang tenteram, damai dan bahagia.
Ia menyatakan kepada mereka bahwa ia adalah kawan mereka dan ingin memberi nasihat dan petunjuk untuk kebaikan dan mengekalkan kebahagiaan mereka. Segala cara dan kata-kata halus digunakan oleh Iblis untuk mendapatkan kepercayaan Adam dan Hawa bahwa ia betul-betul jujur dalam nasihat dan petunjuknya kepada mereka. Ia membisikkan kepada mereka bahwa.larangan Tuhan kepada mereka memakan buah-buah yang ditunjuk itu adalah karena dengan memakan buah itu mereka akan menjelma menjadi malaikat dan akan hidup kekal. Diulang-ulangilah bujukannya dengan menunjukkan akan harumnya bau pohon yang dilarang indah bentuk buahnya dan lezat rasanya. Sehingga pada akhirnya Adam dan Hawa termakan bujukan yang halus itu dan dilanggarlah larangan Tuhan.

Allah mencela perbuatan mereka itu dan berfirman yang artinya: "Tidakkah Aku mencegah kamu mendekati pohon itu dan memakan dari buahnya dan tidakkah Aku telah ingatkan kamu bahwa syaitan itu adalah musuhmu yang nyata."
Adam dan Hawa mendengar firman Allah itu sadarlah ia bahwa mereka telah melanggar perintah Allah dan bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan dan dosa besar. Seraya menyesal berkatalah mereka: "Wahai Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri dan telah melanggar perintah-Mu karena terkena bujukan Iblis. Ampunilah dosa kami karena niscaya kami akan tergolong orang-orang yang rugi bila Engkau tidak mengampuni dan mengasihi kami."

Adam dan Hawa Diturunkan Ke Bumi.

Allah telah menerima taubat Adam dan Hawa serta mengampuni perbuatan pelanggaran yang mereka telah lakukan hal mana telah melegakan dada mereka dan menghilangkan rasa sedih akibat kelalaian peringatan Tuhan tentang Iblis sehingga terjerumus menjadi mangsa bujukan dan rayuannya yang manis namun berancun itu.
Adam dan Hawa merasa tenteram kembali setelah menerima pengampunan Allah dan selanjutnya akan menjaga jangan sampai tertipu lagi oleh Iblis dan akan berusaha agar pelanggaran yang telah dilakukan dan menimbulkan murka dan teguran Tuhan itu menjadi pelajaran bagi mereka berdua untuk lebih berhati-hati menghadapi tipu daya dan bujukan Iblis yang terlaknat itu. Harapan untuk tinggal terus di surga yang  telah pudar karena perbuatan pelanggaran perintah Allah, hidup kembali dalam hati dan fikiran Adam dan Hawa yang merasa kenikmatan dan kebahagiaan hidup mereka di surga tidak akan terganggu oleh sesuatu dan bahwa ridha Allah serta rahmatnya akan tetap melimpah di atas mereka untuk selama-lamanya. Akan tetapi Allah telah menentukan dalam  takdir-Nya apa yang tidak terlintas dalam hati dan tidak terfikirkan oleh mereka. Allah s.w.t.yang telah menentukan dalam takdir-nya bahwa bumi yang penuh dengan kekayaan untuk dikelolanya, akan dikuasakan kepada manusia keturunan Adam memerintahkan Adam dan Hawa turun ke bumi sebagai benih pertama dari hamba-hambanya yang bernama manusia itu. Berfirmanlah Allah kepada mereka: "Turunlah kamu ke bumi sebagian dari kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain kamu dapat tinggal tetap dan hidup disana sampai waktu yang telah ditentukan."

Turunlah Adam dan Hawa ke bumi menghadapi cara hidup baru yang jauh berlainan dengan hidup di surga yang pernah dialami dan yang tidak akan berulang kembali. Mereka harus menempuh hidup di dunia yang fana ini dengan suka dan dukanya dan akan menurunkan umat manusia yang beraneka ragam sifat dan tabiatnya berbeda-beda warna kulit dan kecerdasan otaknya. Umat manusia yang akan berkelompok-kelompok menjadi suku-suku dan bangsa-bangsa di mana yang satu menjadi musuh yang lain saling bunuh-membunuh aniaya-menganianya dan tindas-menindas sehingga dari waktu ke waktu Allah mengutus nabi-nabi-Nya dan rasul-rasul-Nya memimpin hamba-hamba-Nya ke jalan yang lurus penuh damai kasih sayang di antara sesama manusia jalan yang menuju kepada redha-Nya dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Kisah Adam dalam Al-Quran.

Al_Quran menceritakan kisah Adam dalam beberapa surah di antaranya surah Al_Baqarah ayat 30 sehingga ayat 38 dan surah Al_A'raaf ayat 11 sehingga 25


Pengajaran Yang Terdapat Dari Kisah Adam.

Bahwasanya hikmah yang terkandung dalam perintah-perintah dan larangan-larangan Allah dan dalam apa yang diciptakan-Nya kadangkala tidak atau belum dapat dicapai oelh otak manusia bahkan oleh makhluk-Nya yang terdekat sebagaimana telah dialami oleh para malaikat tatkala diberitahu bahwa Allah akan menciptakan manusia - keturunan Adam untuk menjadi khalifah-Nya di bumi sehingga mereka seakan-akan berkeberatan dan bertanya-tanya mengapa dan untuk apa Allah menciptakan jenis makhluk selain mereka yang sudah patuh rajin beribadat, bertasbih, bertahmid dan mengagungkan nama-Nya.

Bahwasanya manusia walaupun ia telah dikurniakan kecerdasan berfikir dan kekuatan fisik dan mental ia tetap mempunyai beberapa kelemahan pada dirinya seperti sifat lalai, lupa dan khilaf. Sebagaimana telah terjadi pada diri Nabi Adam yang walaupun ia telah menjadi manusia yang sempurna dan dikurniakan kedudukan yang istimewa di surga ia tetap tidak terhindar dari sifat-sifat manusia yang lemah itu. Ia telah lupa dan melalaikan peringatan Allah kepadanya tentang pohon terlarang dan tentang Iblis yang menjadi musuhnya dan musuh seluruh keturunannya, sehingga terperangkap ke dalam tipu daya dan terjadilah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh manusia terhadap larangan Allah.

Bahwasanya seseorang yang telah terlanjur melakukan maksiat dan berbuat dosa tidaklah ia sepatutnya berputus asa dari rahmat dan ampunan Tuhan asalkan ia sadar akan kesalahannya dan bertaubat tidak akan melakukannya kembali. Rahmat Allah dan maghfirah-Nya dpt mencakup segala dosa yang diperbuat oleh hamba-Nya kecuali syirik bagaimana pun besar dosa itu asalkan diikuti dengan kesadaran bertaubat dan pengakuan kesalahan.
Sifat sombong dan congkak selalu membawa akibat kerugian dan kebinasaan. Lihatlah Iblis yang turun dari singgasananya dan diusir oleh Allah dari surga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat kepada dirinya hingga hari Kiamat karena kesombongannya dan kebanggaaannya dengan asal-usulnya sehingga ia menganggap dan memandang rendah kepada Nabi Adam dan menolak untuk sujud menghormatinya walaupun diperintahkan oleh Allah s.w.t.

Rabu, 19 Agustus 2015

Entertraining Tahsin "Asyiknya Belajar Qur'an"


In syaa Allah, 6 September 2015 akan menjadi momen istimewa, mengapa?
Karena Pondok Al Qur'an Putri "Yaa Bunayya" akan punya gawe bareng dengan Quantum Sedekah dalam kegiatan Quantum Sedekah Roadshow #2 dengan Kegiatan Entertraining Tahsin "Asyiknya Belajar Qur'an".

Narasumber kegiatan tersebut adalah Pengasuh Pondok Al Qur'an Putri "Yaa Bunayya".

Mari Sahabat dan Saudara-saudara kami, datang dan ikuti rangkaian acaranya. In syaa Allah Berkah-Manfaat Dunia-Akhirat.

GRATIS, dapat modul dan snack juga lho...

Catat dan agendakan:
Ahad, 6 September 2015
Jam 08.00-12.00 WIB
@ Masjid Agung Wahidin Sudiro Husodo, Komplek Kantor Pemda Kab. Sleman DIY.

Bersama : Bang Jun "FunTahsin (Vice President Quantum Sedekah, Pengasuh Pondok Al Qur'an Yaa Bunayya Yogyakarta, Narasumber Maghrib Mengaji Radio MQ 92,3 fm Jogja, Instruktur FunTahsin, FunTamyiz, dan Training Motivasi Qur'an)

Ajak keluarga, saudara, sahabat, dan semuanya ya...

Kami tunggu kehasirannya... :)

KISAH NABI ADAM A.S. (Jilid 1)


Setelah Allah s.w.t. menciptakan bumi dengan gunung-gunungnya, laut-lautannya dan tumbuh-tumbuhannya, menciptakan langit dengan mataharinya, bulan dan bintang-bintangnya yang gemerlapan menciptakan, malaikat-malaikatnya yang merupakan jenis makhluk halus yang diciptakan untuk beribadah menjadi perantara antara Zat Yang Maha Kuasa dengan hamba-hamba terutama para rasul dan nabinya maka tibalah kehendak Allah s.w.t. untuk menciptakan jenis makhluk lain yang akan menghuni dan mengisi bumi, memeliharanya, menikmati tumbuh-tumbuhannya, mengelola kekayaan yang terpendam di dalamnya dan berkembang biak turun-temurun waris-mewarisi sepanjang masa yang telah ditakdirkan baginya.

Kekhawatiran Para Malaikat.

Para malaikat ketika diberitahukan oleh Allah s.w.t. akan kehendak-Nya menciptakan makhluk lain itu, mereka khawatir kalau-kalau kehendak Allah menciptakan makhluk yang lain itu, disebabkan kekecewaan atau kelalaian mereka dalam ibadah dan menjalankan tugas atau karena pelanggaran yang mereka lakukan tanpa disadari. Berkata mereka kepada Allah s.w.t.: "Wahai Tuhan kami! Untuk apa Tuhan menciptakan makhluk lain selain kami, padahal kami selalu bertasbih, bertahmid, melakukan ibadah dan mengagungkan nama-Mu tanpa henti-hentinya,sedang makhluk yang Tuhan akan ciptakan dan turunkan ke bumi itu, niscaya akan bertengkar satu dengan lain,akan saling bunuh-membunuh berebutan menguasai kekayaan alam yang terlihat di atasnya dan terpendam di dalamnya, sehingga akan terjadilah kerusakan dan kehancuran di atas bumi yang Tuhan ciptakan itu."

Allah berfirman, menghilangkan kekhawatiran para malaikat itu:
"Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui dan Aku sendirilah yang mengetahui hikmat penguasaan Bani Adam atas bumi-Ku. Bila Aku telah menciptakannya dan meniupkan roh kepadanya, bersujudlah kamu di hadapan makhluk baru itu sebagai penghormatan dan bukan sebagai sujud ibadah,karena Allah s.w.t. melarang hamba-Nya beribadah kepada sesama makhluk-Nya."
Kemudian diciptakanlah Adam oleh Allah s.w.t.dari segumpal tanah liat kering dan lumpur hitam yang berbentuk. Setelah disempurnakan bentuknya ditiupkanlah roh ciptaan Tuhan ke dalamnya dan berdirilah ia tegak menjadi manusia yang sempurna.

Iblis Membangkang

Iblis membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah seperti para malaikat yang segera bersujud di hadapan Adam sebagai penghormatan bagi makhluk Allah yang akan diberi amanat menguasai bumi dengan segala apa yang hidup dan tumbuh di atasnya serta yang terpendam di dalamnya. Iblis merasa dirinya lebih mulia, lebih utama dan lebih agung dari Adam, karena ia diciptakan dari unsur api,sedang Adam dari tanah dan lumpur. Kebanggaannya dengan asal usulnya menjadikan ia sombong dan merasa rendah untuk bersujud menghormati Adam seperti para malaikat walaupun diperintah oleh Allah.

Tuhan bertanya kepada Iblis: "Apakah yang mencegahmu sujud menghormati sesuatu yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku?"
Iblis menjawab:"Aku lebih mulia dan lebih unggul dari dia. Engkau ciptakan aku dari api dan menciptakannya dari lumpur."
Karena kesombongan, kecongkakan dan pembangkangannya tidak melakukan sujud yang diperintahkan, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusir dari surga dengan disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga Hari Kiamat. Di samping itu ia dinyatakan sebagai penghuni neraka.

Iblis dengan sombongnya menerima dengan baik hukuman Tuhan itu dan ia hanya mohon agar kepadanya diberi kesempatan untuk hidup kekal hingga Hari Kebangkitan kembali di hari kiamat. Allah meluluskan permohonannya dan ditangguhkanlah ia sampai Hari Kebangkitan. Tidak berterima kasih dan bersyukur atas pemberian jaminan itu, bahkan sebaliknya ia mengancam akan menyesatkan Adam sebagai sebab terusirnya dia dari surga dan akan mendatangi anak-anak keturunannya dari segala sudut untuk membujuk mereka meninggalkan jalan yang lurus dan bersamanya menempuh jalan yang sesat, mengajak mereka melakukan maksiat dan hal-hal yang terlarang, menggoda mereka supaya melalaikan perintah-perintah agama dan mempengaruhi mereka agar tidak bersyukur dan beramal soleh.

Kemudian Allah berfirman kepada Iblis yang terkutuk itu:
"Pergilah engkau bersama pengikut-pengikutmu yang semuanya akan menjadi isi neraka Jahanam dan bahan bakar neraka. Engkau tidak akan berdaya menyesatkan hamba-hamba-Ku yang telah beriman kepada Ku dengan sepenuh hatinya dan memiliki aqidah yang mantap yang tidak akan tergoyah oleh rayuanmu walaupun engkau menggunakan segala kepandaianmu menghasut dan memfitnah."

(Bersambung ... )

Sabtu, 15 Agustus 2015

PRIORITAS ILMU ATAS AMAL


DI ANTARA pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas  ilmu  atas  amal.  Ilmu  itu harus didahulukan atasamal, karena ilmu merupakan petunjuk  dan  pemberi  arah  amal yang  akan  dilakukan.  Dalam hadits Mu'adz disebutkan, "ilmu, itu pemimpin, dan amal adalah pengikutnya."

Oleh sebab itu, Imam Bukhari meletakkan satu bab tentang  ilmu dalam  Jami'  Shahih-nya,  dengan  judul  "Ilmu itu Mendahului Perkataan dan Perbuatan." Para pemberi syarah  atas  buku  ini menjelaskan  bahwa ilmu yang dimaksudkan dalam judul itu harus menjadi  syarat  bagi  ke-shahih-an  perkataan  dan  perbuatan seseorang.  Kedua hal itu tidak dianggap shahih kecuali dengan ilmu; sehingga ilmu itu  didahulukan  atas  keduanya.  Ilmulah yang  membenarkan  niat  dan  membetulkan  perbuatan yang akan dilakukan.  Mereka  mengatakan:  "Bukhari  ingin  mengingatkan orang  kepada  persoalan  ini,  sehingga  mereka  tidak  salah mengerti dengan pernyataan 'ilmu itu tidak bermanfaat  kecuali disertai  dengan  amal  yang pada gilirannya mereka meremehkan ilmu pengetahuan dan enggan mencarinya."

Bukhari mengemukakan  alasan  bagi  pernyataannya  itu  dengan mengemukakan sebagian ayat al-Qur'an dan hadits Nabi saw:

"Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas dosa orang-orang mu'min, laki-laki dan perempuan..." (Muhammad: 19)
Oleh karena itu,  Rasulullah  saw  pertama-tama  memerintahkan umatnya  untuk menguasai ilmu tauhid, baru kemudian memohonkan ampunan yang berupa amal perbuatan. Walaupun perintah di dalam ayat  itu  ditujukan  kepada  Nabi  saw,  tetapi ayat ini juga mencakup umatnya.

Dalil yang lainnya ialah ayat berikut ini:

"... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama..." (Fathir: 28)

Ilmu pengetahuanlah yang menyebabkan rasa takut kepada  Allah, dan mendorong manusia kepada amal perbuatan.

Sementara   dalil   yang   berasal  dari  hadits  ialah  sabda Rasulullah saw:

"Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka dia akan diberi-Nya pemahaman tentang agamanya."2

Karena bila dia memahami ajaran agamanya,  dia  akan  beramal, dan melakukan amalan itu dengan baik.

Dalil   lain   yang   menunjukkan   kebenaran   tindakan  kita mendahulukan ilmu atas amal ialah bahwa ayat yang pertama kali diturunkan  ialah  "Bacalah."  Dan  membaca  ialah  kunci ilmu pengetahuan;  dan  setelah  itu  baru  diturunkan  ayat   yang berkaitan dengan kerja; sebagai berikut:

"Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu berilah peringatan! Dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah." (al-Muddatstsir: 1-4)

Sesungguhnya ilmu  pengetahuan  mesti  didahulukan  atas  amal perbuatan,  karena  ilmu  pengetahuanlah yang mampu membedakan antara yang haq dan yang bathil dalam keyakinan umat  manusia; antara  yang  benar  dan yang salah di dalam perkataan mereka;antara perbuatan-perbuatan yang  disunatkan  dan  yang  bid'ah dalam  ibadah; antara yang benar dan yang tidak benar di dalam melakukan muamalah; antara tindakan yang  halal  dan  tindakan yang  haram; antara yang terpuji dan yang hina di dalam akhlak manusia; antara ukuran yang diterima dan ukuran yang  ditolak; antara  perbuatan  dan  perkataan  yang bisa diterima dan yang tidak dapat diterima.

Oleh sebab itu, kita seringkali menemukan ulama pendahulu kita yang   memulai   karangan   mereka  dengan  bab  tentang  ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang dilakukan oleh  Imam  al-Ghazali ketika menulis buku Ihya' 'Ulum al-Din; dan Minhaj al-'Abidin. Begitu pula yang dilakukan oleh al-Hafizh  al-Mundziri  dengan bukunya   at-Targhib   wat-Tarhib.   Setelah  dia  menyebutkan hadits-hadits tentang  niat,  keikhlasan,  mengikuti  petunjuk al-Qur'an  dan  sunnah  Nabi saw; baru dia menulis bab tentang ilmu pengetahuan.

Fiqh prioritas yang sedang kita perbincangkan  ini  dasar  dan porosnya  ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan.  Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan yang tidak karuan.

Benarlah apa yang pernah diucapkan oleh khalifah Umar bin  Abd al-Aziz,  "Barangsiapa  melakukan  suatu  pekerjaan tanpa ilmu pengetahuan tentang itu maka apa yang dia rusak  lebih  banyak daripada apa yang dia perbaiki."3

Keadaan seperti ini tampak dengan jelas pada sebagian kelompok kaum Muslimin, yang tidak kurang kadar ketaqwaan,  keikhlasan, dan   semangatnya;   tetapi   mereka   tidak   mempunyai  ilmu pengetahuan,  pemahaman  terhadap  tujuan  ajaran  agama,  dan hakikat agama itu sendiri.

Seperti  itulah sifat kaum Khawarij yang memerangi Ali bin Abu Thalib r.a.  yang  banyak  memiliki  keutamaan  dan  sumbangan kepada  Islam,  serta  memiliki  kedudukan  yang  sangat dekat dengan Rasulullah  saw  dari  segi  nasab,  sekaligus  menantu beliau   yang  sangat  dicintai  oleh  beliau.  Kaum  Khawarij menghalalkan darahnya dan darah kaum Muslimin yang mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT.

Mereka,   kaum   Khawarij   ini,   merupakan  kelanjutan  dari orang-orang yang pernah menentang pembagian harta yang  pernah dilakukan  oleh  Rasulullah  saw,  yang  berkata kepada beliau dengan kasar dan  penuh  kebodohan:  "Berbuat  adillah  engkau ini!"  Maka  beliau  bersabda, "Celaka engkau! Siapa lagi yang adil, apabila aku tidak bertindak adil. Kalau aku tidak  adil, maka engkau akan sia-sia dan merugi. "

Dalam sebuah riwayat disebutkan, "Sesungguhnya perkataan kasar yang  disampaikan   kepada   Rasulullah   saw   ialah   'Wahai Rasulullah,  bertaqwalah engkau kepada Allah." Maka Rasulullah saw menyergah ucapan itu sambil berkat, "Bukankah aku penghuni bumi yang paling bertaqwa kepada Allah?"

Orang   yang  mengucapkan  perkataan  itu  sama  sekali  tidak memahami  siasat  Rasulullah  saw   untuk   menundukkan   hati orang-orang  yang  baru  masuk Islam, dan pengambilan berbagai kemaslahatan  besar  bagi  umatnya,  sebagaimana  yang   telahdisyari'ahkan  oleh Allah SWT dalam kitab suci-Nya. Rasulullah saw diberi hak untuk melakukan tindakan terhadap shadaqah yang diberikan  oleh  kaum  Muslimin.  Lalu bagaimana halnya dengan harta pampasan perang?

Ketika sebagian sahabat memohon  izin  kepada  Rasulullah  saw untuk   membunuh  para  pembangkang  itu,  beliau  yang  mulia melarangnya; kemudian memperingatkan mereka tentang  munculnya kelompok orang seperti itu dengan bersabda:

"Kalian akan meremehkan (kuantitas) shalat kalian dibandinglan dengan shalat yang mereka lakukan, meremehkan (kuantitas ) puasa kalian dibandingkan dengan puasa yang mereka lakukan; dan kalian akan meremehkan (kuantitas) amal kalian dibandingkan dengan amal mereka. Mereka membaca al-Qur'an tetapi tidak lebih dari kerongkongan mereka. Mereka menyimpang dari agama (ad-Din) bagaikan anak panah yang terlepas dari busurnya."

Makna ungkapan  "fidak lebih dari kerongkongan  mereka"  ialah bahwa  hati  mereka  tidak  memahami apa yang mereka baca, dan akal mereka  tidak  diterangi  dengan  bacaan  ayat-ayat  itu. Mereka  sama  sekali  tidak  memanfaatkan apa yang mereka baca itu, walaupun mereka banyak mendirikan  shalat  dan  melakukan puasa.

Di  antara  sifat  yang ditunjukkan oleh Nabi tentang kelompok itu ialah bahwa,

"Mereka membunuh orang Islam dan membiarkan penyembah berhala."4

Kesalahan fatal yang dilakukan oleh mereka  bukanlah  terletak pada  perasaan  dan niat mereka, tetapi lebih berada pada akal pikiran  dan  pemahaman  mereka.  Oleh  karena   itu,   mereka dikatakan dalam hadits yang lain sebagai:

"Orang-orang muda yang memilih impian yang bodoh." 5

Mereka baru diberi sedikit ilmu pengetahuan, dengan  pemahaman yang  tidak  sempurna,  tetapi  mereka  tidak mau memanfaatkan kitab Allah padahal  mereka  membacanya  dengan  sangat  baik, tetapi  bacaan  yang  tidak disertai dengan pemahaman. Mungkin mereka memahaminya dengan  cara  yang  tidak  benar,  sehingga bertentangan  dengan  maksud  ayat  yang diturunkan oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, Imam  Hasan  al-Bashri  memperingatkan  orang yang  tekun beribadah dan beramal, tetapi tidak membentenginya dengan  ilmu  pengetahuan  dan  pemahaman.   Dia   mengucapkan perkataan yang sangat dalam artinya,

"Orang yang beramal tetapi tidak disertai dengan ilmu pengetahuan tentang itu, bagaikan orang yang melangkahkan kaki tetapi tidak meniti jalan yang benar. Orang yang melakukan sesuatu tetapi tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu itu, maka dia akan membuat kerusakan yang lebih banyak daripada perbaikan yang dilakukan. Carilah ilmu selama ia tidak mengganggu ibadah yang engkau lakukan. Dan beribadahlah selama ibadah itu tidak mengganggu pencarian ilmu pengetahuan. Karena ada sebagian kaum Muslimin yang melakukan ibadah, tetapi mereka meninggalkan ilmu pengetahuan, sehingga mereka keluar dengan pedang mereka untuk membunuh umat Muhammad saw. Kalau mereka mau mencari ilmu pengetahuan, niscaya mereka tidak akan melakukan seperti apa yang mereka lakukan itu."6

ILMU MERUPAKAN SYARAT BAGI PROFESI KEPEMIMPINAN (POLITIK, MILITER, DAN KEHAKIMAN)
Dari uraian tersebut dapat dikatakan  bahwa  ilmu  pengetahuan merupakan  syarat  bagi semua profesi kepemimpinan, baik dalam bidang politik maupun administrasi. Sebagaimana yang dilakukan oleh Yusuf as ketika berkata kepada Raja Mesir:

" ... sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami." Berkata Yusuf: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan." (Yusuf: 54-55)

Yusuf as menunjukkan keahliannya dalam  pekerjaan  besar  yang ditawarkan   kepadanya,  yang  mencakup  pengurusan  keuangan, ekonomi, perancangan, pertanian, dan logistik pada waktu  itu. Yang  terkandung  di  dalam  keahlian  itu  ada dua hal; yakni penjagaan (yang lebih tepat dikatakan  "kejujuran")  dan  ilmu pengetahuan  (yang  dimaksudkan  di  sini ialah pengalaman dan kemampuan). Kenyataan itu sesuai  dengan  apa  yang  dikatakan oleh  salah  seorang  anak  perempuan  Nabi  besar dalam surah al-Qashash:

"... karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya." (al-Qashash: 26)

Ia juga dapat dijadikan sebagai pedoman dalam  dunia  militer; sebagaimana  difirmankan  oleh  Allah  SWT  ketika  memberikan alasan bagi pemilihan Thalut sebagai raja atas bani Israil:

"... Nabi (mereka) berkata, "Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu pengetahuan yang luas dan tubuh yang perkasa..." (al-Baqarah, 247)

Pedoman  itu  juga   sepatutnya   diberlakukan   dalam   dunia kehakiman,  sehingga  orang-orang yang hendak diangkat menjadi hakim  diharuskan  memenuhi   syarat   seperti   syarat   yang diberlakukan  bagi  orang  yang hendak menjadi khalifah. Untuk menjadi hakim itu tidak cukup hanya dengan menyandang  sebagai ulama   yang  bertaqlid  kepada  ulama  lainnya.  Karena  pada dasarnya, ilmu pengetahuan  merupakan  kebenaran  itu  sendiri dengan  berbagai  dalilnya,  dan  bukan  ilmu pengetahuan yang diberitahukan oleh Zaid atau Amr. Orang-orang  yang  bertaqlid kepada  manusia yang lainnya tanpa ada alasan yang membenarkan tindakannya, atau ada  alasannya  tetapi  sangat  lemah,  maka orang itu dianggap tidak mempunyai ilmu pengetahuan.

Keputusan  hukum  yang  diterima  dari  orang  yang  melakukan taqlid, adalah sama dengan kekuasaan yang dilakukan oleh orang yang  tidak  mempunyai  ilmu pengetahuan, yang sangat penting. Akan tetapi ada batasan-batasan tertentu dan minimal bagi ilmu pengetahuan  yang  mesti  dikuasai oleh hakim itu. Jika tidak, maka dia akan membuat keputusan  hukum  berdasarkan  kebodohan dan akan menjadikannya sebagai penghuni neraka.

Dalam  sebuah  hadits  yang  diriwayatkan  oleh  Buraidah dari Rasulullah saw bersabda,

"Ada tiga golongan hakim. Dua golongan berada di neraka, dan satu golongan lagi berada di surga. Yaitu seorang yang mengetahui kebenaran kemudian dia membuat keputusan hukum dengan kebenaran itu, maka dia berada di surga. Seorang yang memberikan keputusan hukum yang didasarkan atas kebodohannya, maka dia berada dineraka. Kemudian seorang yang mengetahui kebenaran tetapi dia melakukan kezaliman dalam membuat keputusan hukum, maka dia berada di neraka."7

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI MUFTI (PEMBERI FATWA)
Persoalan yang serupa dengan kehakiman ialah pemberian  fatwa. Seseorang  tidak boleh memberikan fatwa kepada manusia kecuali dia  seorang  yang  betul-betul  ahli  dalam  bidangnya,   dan memahami   ajaran   agamanya.   Jika   tidak,  maka  dia  akan mengharamkan yang halal dan menghalalkan hal-hal  yang  haram; menggugurkan  kewajiban,  mewajibkan sesuatu yang tidak wajib, menetapkan hal-hal yang bid'ah dan membid'ahkan  hal-hal  yang disyariahkan;   mengkafirkan   orang-orang  yang  beriman  dan membenarkan  orang-orang  kafir.  Semua  persoalan  itu,  atau sebagiannya,  terjadi  karena ketiadaan ilmu dan fiqh. Apalagi bila hal itu disertai dengan keberanian yang sangat berlebihan dalam  memberikan  fatwa,  serta melanggar larangan bagi siapa yang mau melakukannya. Hal ini dapat  kita  lihat  pada  zaman kita  sekarang  ini, di mana urusan agama telah menjadi barang santapan yang empuk bagi siapa  saja  yang  mau  menyantapnya; asal memiliki kemahiran dalam berpidato, keterampilan menulis; padahal al-Qur'an, sunnah Nabi  saw,  dan  generasi  terdahulu umat  ini sangat berhati-hati dalam menjaga hal ini. Tidak ada orang yang berani melakukan hal itu kecuali  orang-orang  yang benar-benar  mempunyai  keahlian  di  dalam  bidangnya,  serta memenuhi  syarat  untuk  persoalan  tersebut.   Betapa   sulit sebenarnya untuk memenuhi syarat-syarat itu.

Sebenarnya  Nabi  saw  sangat  tidak  suka  kepada  orang yang tergesa-gesa memberikan  fatwa  pada  zamannya.  Ada  sebagian orang  yang  memberikan  fatwa  kepada salah seorang di antara mereka yang terluka  ketika  mereka  berjinabat  untuk  mandi, tanpa  mempedulikan  luka  yang  dideritanya. Sehingga hal itu menyebabkan kematiannya. Maka Rasulullah saw bersabda,

"Karena mereka telah membunuhnya, maka semoga Allah akan membunuh mereka! Tidakkah mereka bertanya apabila mereka tidak tahu. Sebenarnya kalau mereka mau bertanya, maka orang itu bisa sembuh. Sebenarnya bagi orang seperti itu hanya cukup bertayammum saja..." 8

Lihatlah bagaimana Rasulullah saw menganggap bahwa fatwa  yang diberikan  oleh  mereka  sama dengan pembunuhan terhadap orang tersebut, sehingga beliau mendoakan mereka, "Semoga Allah juga membunuh  mereka."  Oleh  karena  itu,  fatwa yang keluar dari kebodohan dapat membunuh jiwa dan membawa kerusakan. Dan  pada akhirnya,  Ibn  al-Qayyim dan ulama yang lainnya sepakat untuk mengharamkan pemberian fatwa dalam urusan agama tanpa disertai dengan ilmu pengetahuan; berdasarkan firman Allah SWT:

"... dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (al-A'raf: 33)

Banyak sekali hadits, qaul  sahabat,  dan  generasi  terdahulu umat  ini  yang melarang pemberian fatwa bagi orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan.

Ibn Sirin berkata, "Seorang lelaki  yang  mati  dalam  keadaan bodoh  itu  lebih baik daripada dia mati dalam keadaan berkata tentang sesuatu yang  dia  tidak  mempunyai  ilmu  pengetahuan tentang itu."

Abu Hushain al-Asy'ari berkata, "Sesungguhnya salah seorang di antara mereka ada yang memberi fatwa dalam suatu masalah. Jika hal  ini  berlaku  pada zaman Umar, maka dia akan mengumpulkan para pejuang Perang Badar."

Lalu, bagaimana bila Umar melihat keberanian orang pada  zaman
kita sekarang ini?

Ibn  Mas'ud dan Ibn 'Abbas berkata, "Barangsiapa memberi fatwa kepada orang ramai  tentang  apa  saja  yang  mereka  tanyakan kepadanya, maka dia termasuk orang gila."

Abu  Bakar  berkata,  "kangit  mana yang melindungi diriku dan bumi mana  yang  akan  menjadi  tempat  pijakanku,  kalau  aku mengatakan sesuatu yang tidak kuketahui."

Ali    berkata,    "Hatiku   menjadi   sangat   tenang   --dia mengucapkannya sebanyak tiga kali-- bila  ada  seorang  lelaki yang  ditanya  tentang  sesuatu  yang  dia ketahui, tetapi dia tetap mengatakan, 'Allah yang Maha Tahu.'"

Ibn al-Musayyab, tokoh  senior  tabi'in,  apabila  dia  hendak memberikan  fatwa  dia berkata, "Ya Allah, selamatkan aku, dan benarkan apa yang keluar dari diriku."

Semua ini menunjukkan bahwa  kita  perlu  sangat  berhati-hati dalam memberikan fatwa. Selain itu, fatwa harus diberikan oleh orang-orang  yang  betul-betul  memiliki   ilmu   pengetahuan, wawasan  yang  luas,  wara',  yang  menjaga  diri  dari setiap kemaksiatan, tidak menuruti hawa nafsunya  sendiri  atau  hawa nafsu orang lain.

Atas  dasar  uraian tersebut, sangatlah mengherankan bila para pelajar ilmu syariah --kebanyakan pelajar yang baru masuk pada fakultas  ini--  tergesa  gesa memberikan fatwa dalam berbagai persoalan yang sangat pelik,  problema  yang  sangat  penting, mendahului  para ulama besar, dan bahkan berani menentang para imam  mazhab  besar,   para   sahabat   yang   mulia,   dengan menyombongkan  diri  seraya  mengatakan, "Mereka orang lelaki, dan kamipun orang lelaki."

Pertama-tama  yang  diperlukan  oleh  seseorang  yang   hendak memberikan  fatwa  ialah  mengukur  kemampuan dirinya sendiri, kemudian memahami berbagai tujuan syari'ah,  memahami  hakikat dan  kenyataan  hidup.  Akan  tetapi,sangat  disayangkan bahwa mereka tertutup  oleh  penghalang  yang  sangat  besar,  yaitu ketertipuan  dengan  diri  mereka  sendiri. Sesungguhnya tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah SWT.

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN BAGI DA'I DAN GURU (MUROBI)
Jika ilmu pengetahuan harus dimiliki oleh orang yang  bergelut dalam dunia kehakiman dan fatwa, maka dia juga diperlukan oleh dunia da'wah dan pendidikan. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata..." (Yusuf: 108)

Setiap juru da'wah --dari pengikut Nabi saw-- harus  melandasi da'wahnya  dengan  hujjah  yang  nyata.  Artinya,  da'wah yang dilakukan   olehnya   mesti    jelas,    berdasarkan    kepada hujjah-hujjah  yang  jelas  pula.  Dia  harus  mengetahui akan dibawa ke mana orang yang dida'wahi olehnya?  Siapa  yang  dia ajak? Dan bagaimana cara dia berda'wah?

Oleh  karena  itu, mereka berkata tentang orang rabbani: yaitu orang  yang  berilmu,  beramal,   dan   mengajarkan   ilmunya; sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah SWT:

"... akan tetapi (dia) berkata, 'Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani (yang sempurna ilmu dan taqwanya kepada Allah), karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu telah mempelajarinya." (Ali 'Imran: 79)

Ibn Abbas memberikan penafsiran atas  kata  "rabbani"  sebagai para ahli hikmah sekaligus fuqaha.9

Ada  yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan rabbani ialah orang yang mengajar manusia dengan ilmu kecilnya sebelum  ilmu itu menjadi besar.

Yang  dimaksud dengan ilmu kecil ialah ilmu yang sederhana dan persoalannya jelas.  Sedangkan  ilmu  besar  ialah  ilmu  yang pelik-pelik.  Ada  pula  yang  mengatakan  bahwa rabbani ialah orang  yang  mengajarkan  ilmu-ilmu   yang   parsial   sebelum ilmu-ilmu   yang  universal,  atau  ilmu-ilmu  cabang  sebelum ilmu-ilmu yang pokok, ilmu-ilmu  pengantar  sebelum  ilmu-ilmu yang inti.10

Yang  dimaksudkan dengan pernyataan itu ialah bahwa pengajaran itu dilakukan secara bertahap,  dengan  memperhatikan  kondisi dan   kemampuan   orang   yang   diajarnya,   sehingga   dapat ditingkatkan sedikit demi sedikit.

Persoalan yang perlu diperhatikan  oleh  orang  yang  bergerak dalam bidang da'wah dan pendidikan ialah bahwa juru da'wah dan pendidik itu mesti mengambil jalan yang paling mudah dan bukan jalan   yang   susah;   memberikan  kabar  gembira  dan  tidak menakut-nakuti mereka;  sebagaimana  disebutkan  dalam  sebuah hadits   yang  disepakati  ke-shahih-annya  oleh  Bukhari  dan Muslim,

"Permudahlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari."11

Al-Hafizh ketika memberikan  penjelasan  terhadap  hadits  ini mengatakan,

"Yang dimaksudkan dengan hal ini ialah menarik simpati hati orang yang hampir dekat dengan Islam, dan tidak melakukan da'wah dengan cara yang keras dan kasar pada awal mula kegiatan da'wah itu. Begitu pula hendaknya kecaman terhadap orang yang suka melakukan kemaksiatan. Kecaman itu hendaknya dilakukan secara bertahap. Karena sesungguhnya sesuatu yang pada tahap awalnya dapat dilakukan dengan mudah, maka orang akan bertambah senang untuk memasukinya dengan hati yang lapang. Pada akhirnya, dia akan bertambah baik sedikit demi sedikit. Berbeda dengan cara berda'wah yang dilakukan dengan keras dan kasar." 12

Yang  dimaksudkan  dengan  perkataan  ,mempermudah,  di   situ bukanlah  terbatas  pada orang-orang yang hampir dekat hatinya dengan Islam,  sebagaimana  yang  dijelaskan  oleh  al-Hafizh, tetapi   ia   berlaku   lebih   umum  dan  permanen.  Misalnya mempermudah jalan bagi orang  yang  hendak  melakukan  taubat, atau  kepada  setiap orang yang memerlukan keringanan; seperti orang yang sakit atau  sudah  tua  usianya,  atau  orang  yang berada di dalam keadaan yang mendesak.

Di  antara  keharusan  yang  berlaku di dalam ilmu pengetahuan ialah upaya untuk mencari  ilmu-ilmu  agama  sejauh  kemampuan yang  dimiliki  oleh  seseorang, sesuai dengan kadar kemampuan otaknya untuk menerima ilmu pengetahuan  tersebut.  Dia  tidak boleh   mengucapkan  sesuatu  yang  tidak  cocok  dengan  akal pikirannya, sehingga hal itu  malah  berbalik  menjadi  fitnah bagi dirinya dan juga kepada orang lain. Sehubungan dengan hal ini Ali r.a.  berkata,  "Berbicaralah  kepada  manusia  sesuai dengan  kadar  pengetahuan  mereka.  Tinggalkan apa yang tidak cocok dengan akal pikiran mereka.  Apakah  engkau  menghendaki mereka  mengatakan  sesuatu  yang  bohong  terhadap  Allah dan rasul-Nya?" 13

Ibn Mas'ud r.a.  berkata,  "Engkau  tidak  layak  menyampaikan sesuatu  yang tidak sesuai dengan kadar kemampuan otak mereka. Jika tidak, maka engkau akan menimbulkan fitnah pada  sebagian orang itu."14.

Catatan Kaki:
1 Diriwayatkan oleh Ibn 'Abd al-Barr dan lainnya dari Mu'adz, sebagai hadits marfu' dan mauquf, tetapi hadits ini lebih benar digolongkan kepada hadits mauquf. ^
2 Baca, Shahih al-Bukhari dan Fath al-Bari, 1:158-162, cet. Dar al-Fikr yang disalin dari naskah lama.^
3 Baca Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadhlih, karangan Ibn 'Abd al-Barr, 1:27, cet. Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah^
4 Lihatlah sifat-sifat mereka dalam buku al-Lu'lu' wa al-Marjan fima Ittafaqa 'alaih al-Syaikhani, khususnya hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Jabir,  Abu Sa'id,  Ali, dan Sahal bin Hunaif (638-644).^
5 Hadits Ali, Ibid.^
6 Ucapan ini dikutip oleh Ibn Hazm dalam bukunya, Miftah Dar al-Sa'adah,  h. 82^
7 Diriwayatkan oleh para penulis Sunan Arba'ah dan al-Hakim; sebagai mana diriwayatkan oleh Thabrani dan Abu Ya'la, dan Baihaqi dari Ibn Umar; seperti yang dimuat di dalam al-Jami' as-Shaghir. (4446) dan (4447).^
8 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Jabir, dan diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim dari Ibn 'Abbas. Lihat Shahih al-Jami' as-Shaghir (4362) dan (4363).^
9 Hal ini disebutkan oleh Bukhari ketika memberikan komentar pada bab "Ilmu" dalam Shahih-nya. Al-Hafizh berkata dalam Fath-nya, "Hadits ini sampai Ibn Abi 'Ashim dengan isnad hasan. Dan juga diriwayatkan oleh al-Khathib dengan isnad hasan yang berbeda." 1: 161^
10 al-Fath, 1: 162`^
11 Diriwayatkan oleh al-Syaikhani dari Anas, sebagaimana disebutkan di dalam al-Lu'lu' wa al-Marjan^
12 al-Fath, 1: 163^
13 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab al-'Ilm, secara mauquf atas Ali r.a. (Lihar al-Fath. 1 225)^
14 Diriwayatkan oleh Muslim dalam mukadimah as-Shahih secara mauquf atas Ibn Mas'ud. Ibid.
^

Kamis, 13 Agustus 2015

DI MANA LETAK KEBAHAGIAAN?


Konon pada suatu waktu, Tuhan memanggil tiga malaikatnya. Sambil memperlihatkan sesuatu Tuhan berkata, “Ini namanya Kebahagiaan. Ini sangat bernilai sekali. Ini dicari dan diperlukan oleh manusia. Simpanlah di suatu tempat supaya manusia sendiri yang menemukannya. Jangan ditempat yang terlalu mudah sebab nanti kebahagiaan ini disia-siakan. Tetapi jangan pula di tempat yang terlalu susah sehingga tidak bisa ditemukan oleh manusia. Dan yang penting, letakkan kebahagiaan itu di tempat yang bersih”.

Setelah mendapat perintah tersebut, turunlah ketiga malaikat itu langsung ke bumi untuk meletakkan kebahagiaan tersebut. Tetapi dimana meletakkannya?

Malaikat pertama mengusulkan, “Letakan dipuncak gunung yang tinggi”.
Tetapi para malaikat yang lain kurang setuju.
Lalu malaikat kedua berkata, “Latakkan di dasar samudera”.

Usul itupun kurang disepakati.

Akhirnya malaikat ketiga membisikkan usulnya. Ketiga malaikat langsung sepakat. Malam itu juga ketika semua orang sedang tidur, ketiga malaikat itu meletakkan kebahagiaan di tempat yang dibisikkan tadi.

Sejak hari itu kebahagiaan untuk manusia tersimpan rapi di tempat itu. Rupanya tempat itu cukup susah ditemukan. Dari hari ke hari, tahun ke tahun, kita terus mencari kebahagiaan. Kita semua ingin menemukan kebahagiaan.

Kita ingin merasa bahagia. Tapi dimana mencarinya?

Ada yang mencari kebahagiaan sambil berwisata ke gunung, ada yang mencari di pantai, Ada yang mencari ditempat yang sunyi, ada yang mencari ditempat yang ramai. Kita mencari rasa bahagia di sana-sini: di pertokoan, di restoran, ditempat ibadah, di kolam renang, di lapangan olah raga, di bioskop, di layar televisi, di kantor, dan lainnya. Ada pula yang mencari kebahagiaan dengan kerja keras, sebaliknya ada pula yang bermalas-malasan. Ada yang ingin merasa bahagia dengan mencari pacar, ada yang mencari gelar, ada yang menciptakan lagu, ada yang mengarang buku, dll.

Pokoknya semua orang ingin menemukan kebahagiaan. Pernikahan misalnya, selalu dihubungkan dengan kebahagiaan. Orang seakan-akan beranggapan bahwa jika belum menikah berarti belum bahagia. Padahal semua orang juga tahu bahwa menikah tidaklah identik dengan bahagia.

Juga kekayaan sering dihubungkan dengan kebahagiaan. Alangkah bahagianya kalu aku punya ini atau itu, pikir kita. Tetapi kemudian ketika kita sudah memilikinya, kita tahu bahwa benda tersebut tidak memberi kebahagiaan.

Kita ingin menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan itu diletakkan oleh tiga malaikat secara rapi. Dimana mereka meletakkannya? Bukan dipuncak gunung seperti diusulkan oleh malaikat pertama. Bukan  didasar samudera seperti usulan malaikat kedua. Melainkan di tempat yang dibisikkan oleh malaikat ketiga.

Dimanakah tempatnya?

Saya menuliskan sepenggal kisah perjalanan hidup saya untuk berbagi rasa dengan teman-teman semua, bahwa untuk mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan itu tidaklah mudah. Perlu perjuangan. Ibarat sebuah berlian, dimana untuk mendapatkan kilauan yang cemerlang, harus terus diasah dan ditempa sehingga kemilauan yang dihasilkan terpancar dari dalamnya.

Begitu juga hidup ini.Kita harus rendah hati.

Seringkali kita merasa minder dengan keberadaan diri kita.

Sering kali kita berkata, ach… gue mah belum jadi orang.

Tinggal aja masih ama ortu, ngontrak, TMI dll.
Kita harus ingat, bahwa yang menentukan masa depan kita adalah Tuhan.

Dan kita harus menyadari bahwa jalan Tuhan bukan jalan kita.

Tuhan akan membuat semuanya INDAH pada waktunya.
Jika menurut buku ada 7 faktor (mental, spiritual, pribadi, keluarga, karir, keuangan dan fisik) yang menentukan sukses seseorang, mengapa tidak kita coba untuk mencapainya semua itu?
Setelah kita mencapainya, bagaimana kita membuat ke-7 faktor tersebut menjadi seimbang?

Yang penting disini adalah hikmat.
Barangsiapa yang bijaksana dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan di dalam hidup ini.

Oh ya…, dimanakah para malaikat menyimpan kebahagiaan itu?
DI HATI YANG BERSIH.

Rabu, 12 Agustus 2015

PENERIMAAN SANTRI MUKIM


Pondok Al Qur’an Putri “Yaa Bunayya” Yogyakarta membuka Pendaftaran Santriwati Mukim Baru dengan ketentuan sebagai berikut:
A.      Persyaratan Umum
1.       Muslimah Usia 12-18 tahun
2.       Bisa Membaca Al Qur’an
3.       Sehat Ruhani dan Jasmani
4.       Siap Mematuhi Peraturan dan Disiplin Pondok
5.       Mendapatkan Izin dari Orang Tua/Wali

B.      Persyaratan Pendaftaran
1.       Mengisi Formulir Pendaftaran (Download DI SINI)
2.       Pas Foto Berwarna ukuran 3x4 sebanyak 3 lembar
3.       Fotokopi Raport 2 Semester Terakhir
4.       Fotokopi Akte Kelahiran
5.       Fotokopi Kartu Keluarga
6.       Fotokopi KTP Kedua Orang Tua/Wali
7.       Surat Keterangan Sehat dari Dokter
8.       Surat Keterangan Izin Dari Orang Tua/Wali

Mekanisme Pendaftaran
1.       Pendaftar mendownload Formulir Pendaftaran DI SINI
2.       Calon santri mengisi formulir pendaftaran tersebut dan mengirimnya via email ke insanperindusurga@gmail.com.
3.       Setelah mengirim berkas tersebut, konfirmasi via SMS ke 085600800028 atau 085643855597 dengan mengetik: NAMA#USIA#ALAMAT.
4.       Calon santri menerima SMS jadwal Tes dan Wawancara
5.       Datang pada jadwal yang telah ditentukan untuk Tes dan Wawancara dengan membawa berkas-berkas persyaratan pendaftaran.
6.       Tes, Wawancara dan Hasilnya in syaa Allah akan diumumkan pada hari itu juga.

Contact Person:
Telp/SMS/WA : 085600800028 / 085643855597


BBM: 7D3A946A / 53CF102F

KEGIATAN SANTRI

Jadwal Kegiatan Santri Mukim Pondok Qur’an Yaa Bunayya
Waktu
Kegiatan
Keterangan
03.00-04.00
Qiyamullail + Muraja’ah

04.00-06.00
Shalat Shubuh Berjama’ah, Dzikir Pagi + Tahsin/Tahfizh

06.00-06.30
MCK + Sarapan

06.30-14.00
Belajar di Sekolah

14.00-15.00
Makan Siang + Istirahat

15.00-16.00
Shalat ‘Ashar Berjama’ah + MCK

16.00-17.30
Pengabdian Mengajar TPA

17.30-18.00
Shalat Maghrib Berjama’ah

18.00-19.00
Setoran Hafalan

19.00-19.15
Shalat Isya’ Berjama’ah

19.15-19.45
Makan Malam

19.45-21.00
Belajar

21.00-03.00
Istirahat

Catatan:
Santri ditugaskan Shalat Dhuha dan Shalat Dzuhur berjama’ah di sekolah.
Kegiatan Pekanan :
Latihan Bela Diri (Jadwal Menyesuaikan)
Kegiatan Bulanan :
Jaulah Bisnis (Kunjungan ke usaha, magang dan pengenalan dunia kewirausahaan)
Dengan kegiatan-kegiatan tersebut, diharapkan santri menjadi generasi/insan yang :
-          Mempunyai spiritual yang baik
-          Berprestasi dalam bidang akademik
-          Melatih kemandirian finansial
-          Dapat menjaga keselamatan diri sendiri dan orang-orang di sekitarnya
Mampu berdakwah di masyarakat

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons | Re-Design by PKS Piyungan